Saturday, July 1, 2017

Perpisahan yang biasa

Bagiku mutasi bagaikan makan siang,  rasanya hampir setiap hari dan menunya selalu berganti,  begitu pula dengan mutasi rasanya hampir setiap hari dan orang-orang silih berganti,  dan aku baru ingat ini aku makan di restoran utara bekasi.  Namun bagiku takkan ada cita rasa terlezat sekalipun di restoran manapun.  Seseorang berkata makan akan menjadi nikmat bukan dengan apa kita makan tetapi dengan siapa kita makan,  yang terpenting aku bisa menikmati waktu bersama kalian,  kalian yang selalu menjadi kenangan indah saat kita sedang dicerca dan dicaci maki namun selalu ada tawa dibalik semua itu, kita yang takkan terbunuh lewat kata-kata karena punya tekad yang sama,  menjadi andalan bangsa,  menjadi pion-pion kecil namun menjadi kuat karena lawan kita hanyalah raja-raja tanpa pasukan,  kita akan menang dengan mudah menghadapi segala masalah,  takkan pernah kabur dan menyerah. 

Meski kita kini berada direstoran yang berbeda jangan pernah lupakan tempat dimana kita pernah mampir disini direstoran tua ini digubuk tua ini, karena jiwa kitalah yang muda.

Untukmu jiwa-jiwa yang senantiasa muda kaum uttaran

Thursday, June 29, 2017

Kembali Pulang

Kembali pulang

Air takkan pernah mengingkari darimana ia berasal, ia hanya lupa.

Ketika sang bumi meneteskan peluhnya,  mebgalirkan buih demi buih,  dari sanalah seharusnya sadar ia menjadi penting.  Air takkan pernah tamak ketika berada dibawah bumi,  ia  dermawan dan bersahaja, memberi kehidupan bagi bumi dan isinya, menjadi penting, namun air selalu rendah hati.  Penting pula menjadi rendah hati yang tidak pernah lelah.  Bukannya air sudah lelah namun tak ada tempat lagi bagi dirinya yang mulai tumbuh kembang.  Lambat laun air pun dipaksa berpindah karena darat takkan mampu menyisakan ruang bagi dirinya,  ia murka,  ia naik ke atas lalu menghempaskan daratan, setelah itu ia mencari tempat baginya untuk menempa diri mencari jatidiri.  Ia pergi ke laut yang membuat dirinya memiliki rasa, kadang ia menjadi ombak yang keras memecah batu karang, kadang ia tenang selembut kapas.
Hidup di laut begitu singkat dan kerasnya,  nasib buruk akan mengubahnya menjadi batuan dingin yang padat,  terkekang tak bisa kemana-mana sampai bumi akan meneteskan darahnya,  membawa dirinya kembali menjadi air. Nasib baik akan membawanya terbang tinggi ke puncak tertinggi di bumi melihat semuanya dari atas sana.  Menyenangkan begitu nyaman sampai pada akhirnya ia menjadi tamak dan lupa darimana ia datang.  Ia dapat bertindak sesuka hatinya,  berkuasa atas segala  tindakannya,  kadang ia bijaksana namun tak jarang licik,  kejam,  sampai menindas semua yang ada dibawahnya sampai ia mendapat tanda bahwa kegelapan akan datang. Ketika masa gelapnya itu datang,  air pun sadar bahwa waktunya di sana pun sebentar dan tidak ada siapapun yang dapat mengubah takdir,  takkan ada yang dapat menolong.  Begitu waktunya telah tiba,  ia akan pulang kembali ke rumahnya, turun menjadi pelepas dahaga bagi mereka yang kekurangan,   turun ke tempat dimana ia akan berbagi kebaikan dan cinta kasih, dimana ia menjadi sumber kehidupan,   tempat dimana dia merasakan ketenangan, memberikan kesejukan,  meredam kobaran amarah,  dan kesengsaraan.

Air takkan pernah mengingkari darimana ia berasal,  ia hanya lupa.

Saturday, May 13, 2017

Sebuah Renungan Pensiun

Beberapa hari ini ada seorang senior kami yang baru saja pensiun,  Pak Lingga namanya,  beliau telah lulus dari masa bhakti menjadi purnabhakti.  Sangat luar biasa  mampu lulus dari semua tantangan kerja, kesehatan,  semua persoalan hidup yang mengantarnya sampai disana.  Kira-kira tahapan manusia pekerja adalah begini lahir,  sekolah/kuliah, cari kerja,  bekerja,  pensiun.  Setidaknya saya baru sampai tahap bekerja,  tahap ini paling lama kalau ditotal butuh waktu 35 tahun sampai kemasa itu masih sisa 33 tahun lagi.  Namun apa yang dipikiran kita menjadi kesusahan atau kedukaan namun disanalah ada kesukaan.  Maksudnya apa tiba-tiba saya menyambungkan saya terhadap hal itu?  Dalam 33 tahun yang bagi mereka waktu yang sangat lama,  mungkin hanyalah sebuah siklus yang ketika berangkat kerja ngantuk mengeluh,  ketika pulang capek lalu mengeluh lagi,  pada saat bekerja selalu mengeluh-mengeluh dan mengeluh, namun saya yakin kalau misal tiap hari kita tidak mengeluh maka waktu akan tidak terasa,  mungkin saya harus lebih menanamkan ini pada diri saya.  Jalankan prosesnya,  maka kamu akan menikmati segala prosesnya tersebut. Ada hal lainnya yang sangat aneh bagi semua orang ketika saya cuti saya masih datang kekantor betapa saya sulitnya lepas dari kantor mungkin karena rumah dekat kantor. 

Terlepas apa yang kita punya dan lakukan itu kita hanya berusaha tapi Tuhan yang menentukan,  Pns mana yang tidak mau pensiun secara sehat atau pns mana yang diberi umur panjang,  perjalanan masih akan sangat panjang dan saya sadar masih sangat muda dan ingin selalu muda,  sehingga saya perlu banyak belajar lagi.