Tuesday, May 9, 2017

Sang Musafir

Pedagang A datang jauh dari negeri sebrang kira-kira empat setengah ribu kilometer jarak yang harus ditempuh menggunakan perahu dan pedagang B datang jauh sekitar delapan ribu kilometer datangnya dari tujuannya itu dan terakhir dari dua belas ribu kilometer datanglah pedagang C. Mereka yang sudah datang jauh-jauh dari kampung halaman ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya.  Pada akhirnya bukan barang daganganlah yang membuat mereka bersaing karena ditempat dagangan mereka itu ada potensi untuk berkuasa atau menjajah tempat tersebut sehingga kacaulah suasana tempat tersebut yang awalnya indah,  tenteram,  ramah,  dan teratur.  Semenjak kedatangan mereka hidup rakyat di tempat itu jadi terpecah belah,  mereka ada yang sangat berkeyakinan mengikuti pedagang A,  pedagang B,  atau pedagang C.  Mereka yang tadinya tidak terpisahkan menjadi saling memusuhi satu sama lain apalagi semenjak terjadi asimilasi kultur disana.  Dan akhirnya keturunan-keturunan itulah yang pada akhirnya berebut kekuasaan di tempat itu hingga pertumpahan darah terjadi di tempat itu selama ratusan tahun.  Namun pada akhirnya mereka sadar bahwa seharusnya kehidupan rakyat itu bukanlah sebagai barang dagangan,  keyakinan itu bukanlah barang dagangan yang takkan bisa menjadi debat,  mereka hanya perlu paham dan toleran terhadap segala perbedaan bukannya saling menguasai dan menikam karena mereka beda,  beda tempat asal, beda keyakinan. Ketika generasi baru lahir dan pada akhirnya mereka yang memiliki jiwa-jiwa yang idealis yang tidak dibutakan dengan uang yang mampu membuat mereka bersatu. Karena merek yakin mereka lahir karena darah mereka tertancap di negeri ini walaupun mereka bukan warga asli setempat.

Thursday, April 27, 2017

Pelajaran bekerja

Orang yang suka menuduh orang lain tidak bekerja sesungguhnya 70% waktu bekerjanya adalah ngomongin orang dan dipakai tidak bekerja.

Kadang kita lebih mudah menilai orang lain daripada berkaca apakah kita lebih buruk daripada seseorang

Tuesday, April 11, 2017

Tentang pekerjaan

Bekerja itu banyak tantangan dan mencari win-win solution, buat keluargaku di masa depan(penulis sedang berhalusinasi) bekerja itu tidak sepenuhnya menggunakan pikiran tetapi kadang kita mencurahkan emosi didalamnya. Dalam keadaan senang mungkin kita tidak terasa bekerja berjam-jam tahu-tahu sudah jam pulang saja, tetapi ketika kita sedang ada masalah pribadi atau pekerjaan atau mendapat teguran dari atasan maka pekerjaan ringan jadi terasa berat belum lagi di dalm kantor pasti saja ada yang bergosip ria, menjelek-jelekan orang lain atau iri dengan rekan kerjanya sendiri, selama hampir tiga atau empat tahun bekerja saya sendiri bertemu orang-orang yang punya karakter berbeda-beda tapi pada akhirnya lebih baik diam dan sambil menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan, untuk keluargaku yang kelak membaca tulisan ini maka diam adalah pembelaan diri terbaik dalam bekerja, biarkan orang lain menilai dari luar tapi pada dasarnya orang lain tidak bisa menilai inner beauty kita, yang hanya orang lain tahu hanyalah keburukan saja yang sangat mudah kita cari. Jangan lah pula mulutmu menjadi manis bila bertemu atasan atau rekan tapi kamu sebenarnya tidak ngapa-ngapain yang ada hanyalah prestasi orang lain yang kamu klaim sebagai keberhasilanmu. Berikutnya jangan menyebarkan gosip atau praduga tak bersalah, kasihan kan orang lain yang menjadi bahan omongan padahal belum tentu benar bisa jadi fitnah karena ingin dapat jabatan. Adalagi semua yang kamu tahu belum tentu membuat kamu bertambah ilmunya jadi harus ada yang di delete permanent. Selain itu kamu harus juga bisa membedakan dan membatasi wewenang yang bisa kamu lakukan mana yang tidak, jangan mau kamu menjadi korban kesalahan atasanmu dan hendaknya kamu tidak melakukan apa yang seharusnya lakukan. Pada dasarnya perintah atasan harus dilakukan sebaik-baiknya, mengapa? karena loyalitas itu yang paling susah dicari. Lalu jangan pernah kamu menolak perintah atasan, terima saja dulu perintahnya selama masih tidak melanggar hukum seharusnya dikerjakan. Karena setiap perintah adalah ujian dari atasan buat kamu terkadang mereka lupa sendiri apa yang mereka perintahkan.