Sunday, January 1, 2017

2016: Fenomenal, Sebuah Milestone

Banyak kenangan di tahun 2016 yang akan sangat sulit terlupakan di januari saya berulang tahun, februari sudah sibuk dengan penyuluhan, maret digemparkan dengan efiling, april pun demikian ditengah kesibukan itu aku mengucapkan selamat tinggal kepada motor mio yang membawaku selalu menuju kantor homebase, meskipun mei dan juni tidak terlalu sibuk, tapi di bulan juli pemerintah dengan DJP nya mengeluarkan produk baru Amnesti Pajak yang berujung sibuknya kantor pajak sd akhir tahun, sedangkan Bulan agustus masih spesial karena ada 17Agustus dan penyuluhan amnesti pajak, September aku hampir saja beli rumah, tapi realisasi nya dibulan Oktober, lagi-lagi bertepatan dengan periode sibuk yang batas dari periode 2 amnesti pajak, november kita tetap disibukkan dengan amnesti pajak, Desember adalah tantangan sebenarnya saya dan teman2 dituntut untuk lebih kerja keras lagi dan lagi. Dan kembali terulang aku masuk kerja dihari cuti ku, menyenangkan bisa menutup tahun dengan rekan kantor dan menutup tahun 2016 dengan realisasi 93%. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang Engkau berikan.2017 semakin bersinar.

Sunday, October 16, 2016

Rumah Pertama.

Berawal dari niat beli rumah pertama di daerah Bulak Kapal Permai, akhirnya menjadi kenyataan walaupun baru lunas sekitar 7 tahun lagi. 


Jadi ceritanya begini, saya pernah beberapa kali iseng-iseng bertanya rumah dijual disekitar Bulak Kapal Permai, mengapa? bagi saya Bulak Kapal Permai itu adalah homeland, disini saya lahir, sekolah, dan kerja penempatan pertama disini juga. Lalu saya cari rumah yang kira2 murah dari type 21, type 36, type 21 hook, type 45. Beli rumah itu ngga semulus yang dibayangkan, pernah sekali ditipu masalah harga oleh penjualnya, pernah juga sudah deal tapi harta gono-gini padahal sudah ada di notaris, pernah kesalip orang karena dananya gak mnecukupi. Akhirnya setelah sekian lama kebeli juga rumah di Jalan Kerinci di Bulak Kapal Permai type 21 cocok buat keluarga awal. Rumah yang kecil berlantai 2 tapi strategis, karena sebentar lagi ada LRT, stasiun bekasi timur, Samsat, cgv blitz, deket pool damri, travel ke bdg, pool transjakarta, pool bus2 ke jawa.

Biarlah sempit karena ini adalah rumah pertama yang suatu saat akan menjadi museum kenangan didalamnya ada jerih payah didalamnya karena kelak hidup itu akan berkembang dan kita akan membutuhkan banyak ruang. 


Wednesday, September 28, 2016

membeli rumah itu jodoh-jodohan

Satu fase terberat ketika pria mulai memasuki umur 25 adalah dituntut kemapanannya. Bagi saya sendiri kemapanan seorang pria bisa diukur dari apakah dia sudah memiliki rumah. Mencari rumah itu modalnya besar, dan harus disertai planning bagaimana dananya, tempat yang strategis beserta fasum dan fasos, yang jelas mencarinya itu sulit, karena kalau kata orang jodoh-jodohan. Saat ini saya sendiri cukup pusing memikirkan yang terbaik(beruntungnya saya punya mama super yang selalu membimbing saya). Dari segi pendanaan ketika saya single mungkin akan terasa sangat ringan, tapi ketika double tentunya biaya akan selalu terasa besar. Maka dari itu mencari pasangan yang mau mengerti dirasa seperti juga halnya mencari rumah, sedikit pasangan yang benar-benar mengerti financial planning yang baik yang pasti semua perlu proses kedewasaan keuangan. Harus ada pengereman(pengendalian diri) dan jauhkan rasa egois dan nafsu. Sayangnya banyak yang seumuran saya begitu menikmati hal yang hedonis, tapi masa muda memang tidak bisa datang dua kali, your only live once. Kamu harus belajar persamaan ekonomi y=c+s/i . Menikmati hidup bukan berarti harus boros atau makan makanan mahal atau berpakaian mahal, jajanan anak sekolah pun, bisa buat kalian senang, sesekali traveling ke luar kota atau negeri sebenarnya tidak masalah tapi jangan lupakan porsi buat investasi. Jangan lupa beramal atau membantu orang lain,kelak rezeki itu lancar layaknya keran air yang terbuka, kalau keran mu saja selalu tertutup bagaimana orang lain bisa minum.

pesan untuk istri dimasa depan:
Jika saya ngga modal  bukan berarti saya ngga punya modal, saya justru menyimpan modal untuk masa depan kit kelak. Jika saya irit bukan berarti pelit, jika saya pelit saya hanya pelit terhadap diri sendiri itu semua hanya untuk kita dan anak-anak kita.