Tuesday, January 7, 2014

(misalkan) Aku berulang tahun di 8 Januari

hari ini rabu terakhir di bulan desember, rabu terakhir untuk tahun itu, 
hujan masih setia turun dan angin menemani layaknya kekasih memeluk sang pujaan,
Rabu itu hari Natal. 
Hujan kini seakan enggan pulang, harusnya hari itu aku berbahagia. 
Namun hujan rupanya kini malah jatuh cinta kepada bumi yang menjadikannya lautan. 
Aku sangat lelah hari itu tuan, menyapu sisa-sisa kegembiraan hujan, 
tapi tak apalah hujan pula yang membuat orang-orang berkata aku manusia tangguh. 


Seminggu lewat sudah, hujan kini enggan menampakan diri seakan baru saja berkelahi dengan bumi. Padahal waktu itu bumi sedang merayakan hari jadinya.
Aku tidak lupa hari itu adalah hari rabu, 
aku tidak lelah tapi aku tertidur layaknya berabad-abad tak tertidur. 
Aku tak sempat merayakan kegembiraan bumi rabu itu, 
rasanya tak ada akupun tak apa,
tak ada yang memperhatikannya pula,
lagipula bumi tak akan marah padaku. 


Tak terasa sudah hari ke tujuh sejak perayaan bumi . Sebenarnya aku tidak ingat hari ini adalah Rabu. Karena Rabu itu hujan tidak berbahagia, dan bumi tidak mungkin merayakan hari jadinya yg kedua dalam seminggu saja
Andaikan aku mendapat kesempatan untuk berbahagia hari ini. 
Aku berharap hari ini adalah hari Ulang Tahunku. 
Aku berharap bumi dan hujan menjadi sahabat walaupun mereka sudah tak lagi menjadi sepasang kekasih. 
Aku berharap ada waktu bagi mereka saling berkunjung yang tak begitu lama tak begitu sebentar pula. Asalkan harapku itu ditepati, 
rabu,8 Januari, hari ulang tahunku, Aku bahagia.


*kalau ini dibilang Sajak ini pasti kepanjangan tapi kalau ini dibilang cerpen pasti kependekan nilai sendiri saja.hahaha.
Selamat membaca.

Thursday, January 2, 2014

Di Dalam kereta Itu



  • di dalam kereta itu aku terbawa ke suatu tempat 
  •   di dalam kereta itu aku berdansa bersama orang yang tak kukenal 
  •   di dalam kereta itu betis tak sengaja bertemu betis dan pertemuan paha dengan paha tak terelakkan
  • di dalam kereta itu ada yang cakar-cakaran
  •   di dalam kereta itu ada yang tak sengaja berpelukan
  •   di dalam kereta itu kulihat wajah penuh peluh
  •   di dalam kereta itu aroma busuk
  •   di dalam kereta itu  ada pemburu harta 
  •   di dalam kereta itu kulihat belas kasih yang tulus seorang calon ibu
  • di dalam kereta tampak sang ayah yang menggendong anaknya 
  •   di dalam kereta itu ada sepasang sejoli dipertemukan 
  •   di dalam kereta itu ada yang tertawa dan menangis
  •   di dalam kereta itu ada tindakan asusila
  •   di dalam kereta itu ada teriak kesakitan
  •   di dalam kereta itu handphone berdering nyaring 
  •   di dalam kereta itu tampak wajah-wajah lelah tertidur 
  •   di dalam kereta itu aku berjalan menuju pintu keluar dan mengucapkan selamat    tinggal.
  •   

Monday, November 18, 2013

Sajak Pemberontakan kepada Matahari

siang ini, cahaya pun enggan turun
hanya tampak kabut, 

kabut sekarang menjadi temanku 
yang memisahkanku dengan matahari, 
seolah tak mau menyapa,

seperti ada jarak yang memisahkan kami,
aku jauh dari panas yang menghangatkan seluruh raga. 


Tak ada keringat, 
tak ada kulit yang memerah. 
hanya ada penantian dan rindu akan datang matahari, 
benar hari itu aku rindu matahari.


Semua terserah aku dan kabut, 
andaikan temanku itu mau mengalah 
aku bisa bertemu matahari sore nanti. 
namun waktuku tak banyak sore itu 
matahari hanya memunculkan wajahnya sebentar saja sebelum pada akhirnya kembali ke titik permulaan. 
Dan kita berpisah lagi.
haruskah aku berpindah tempat untuk mencari bintang yang lain? 
hanya aku yang tahu jawabannya,semua terserah padaku.