Pedagang A datang jauh dari negeri sebrang kira-kira empat setengah ribu kilometer jarak yang harus ditempuh menggunakan perahu dan pedagang B datang jauh sekitar delapan ribu kilometer datangnya dari tujuannya itu dan terakhir dari dua belas ribu kilometer datanglah pedagang C. Mereka yang sudah datang jauh-jauh dari kampung halaman ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya. Pada akhirnya bukan barang daganganlah yang membuat mereka bersaing karena ditempat dagangan mereka itu ada potensi untuk berkuasa atau menjajah tempat tersebut sehingga kacaulah suasana tempat tersebut yang awalnya indah, tenteram, ramah, dan teratur. Semenjak kedatangan mereka hidup rakyat di tempat itu jadi terpecah belah, mereka ada yang sangat berkeyakinan mengikuti pedagang A, pedagang B, atau pedagang C. Mereka yang tadinya tidak terpisahkan menjadi saling memusuhi satu sama lain apalagi semenjak terjadi asimilasi kultur disana. Dan akhirnya keturunan-keturunan itulah yang pada akhirnya berebut kekuasaan di tempat itu hingga pertumpahan darah terjadi di tempat itu selama ratusan tahun. Namun pada akhirnya mereka sadar bahwa seharusnya kehidupan rakyat itu bukanlah sebagai barang dagangan, keyakinan itu bukanlah barang dagangan yang takkan bisa menjadi debat, mereka hanya perlu paham dan toleran terhadap segala perbedaan bukannya saling menguasai dan menikam karena mereka beda, beda tempat asal, beda keyakinan. Ketika generasi baru lahir dan pada akhirnya mereka yang memiliki jiwa-jiwa yang idealis yang tidak dibutakan dengan uang yang mampu membuat mereka bersatu. Karena merek yakin mereka lahir karena darah mereka tertancap di negeri ini walaupun mereka bukan warga asli setempat.
No comments:
Post a Comment