“Karena Tuhanlah yang berencana dan manusialah yang berusaha”
Sudah dua rasanya semenjak Papa mulai sedikit demi
sedikit mengalah dengan usia dan akhirnya pensiun lebih awal. Tahun ini adalah
tahun 2010 dimana aku harus menentukan pilihan untuk segera melanjutkan
pendidikanku ke Perguruan Tinggi. Kegundahan itu yang membuatku sempat ragu
untuk mengambil berbagai jurusan yang sebenarnya ingin kuharapkan seperti Perminyakan
ITB atau sebutlah saja jurusan di Fakultas Teknik UI atau Fakultas Ekonomi UI,
aku tertarik pada dua jurusan tersebut pertama aku suka sekali dengan geologi
dan kedua aku juga senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dan
keuangan karena aku memiliki cita-cita menjadi auditor dan financial planner karena aku pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad karena pikiranku itu
sangat sempit sekali waktu itu yaitu kalau orang-orang kaya itu adalah
orang-orang yang terbiasa pegang uang dan biasanya mereka adalah orang keuangan.
Namun untuk lulus di sana tentunya sulit dan ditambah pada saat itu banyak
desas-desus membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Apalagi pilihan
swasta, pada saat itu biaya untuk masuk kesana bisa dua kali lebih besar dibandingkan
di Perguruan Tinggi Negeri. Beban
Pikiran itulah yang selalu membayangiku ketika ditanya mau ambil apa
kuliah nanti dan dimana aku akan kuliah? Aku menjawab dengan dengan keraguanku
“belum tahu” atau “masa bodohlah”. Meski diberi cukup kebebasan untuk mengambil
kuliah di PTN memang ada rasa yang membatasi pikiran dengan hati ketika aku
mengambil jurusan-jurusan yang kuinginkan dengan kondisi yang keluargaku alami.
Agar bisa masuk PTN, setiap hari aku pun masih ke
bimbingan belajar untuk berlatih soal-soal yang membahas ujian masuk perguruan
tinggi. Setiap hari lelah rasanya pulang jam delapan malam tapi rasanya dengan
pengorbanan orang tua yang telah menyisihkan dana mereka agar anaknya bisa
mengikuti bimbingan belajar dengan harapan aku bisa lulus dari ujian Perguruan
Tinggi Negeri. Buku-buku latihan soal pun sudah menggunung di kamar, rasanya
bila aku tidak lolos ke PTN aku adalah orang yang paling berdosa bagi mereka.
Karena biaya yang paling murah diantara jurusan yang aku minati itu akuntansi
UI maka aku berusaha mengejar dan fokus kesana sehingga aku harus menyimpang
dari jurusan IPA-ku ini menuju jurusan IPS dan Ujian Saringan Masuk UI yang
dikenal singkatan dengan SIMAK tinggal 3 bulan lagi yaitu pada bulan Maret
tahun 2010. Dengan persiapan terbatas aku mengambil akuntansi sebagai pilihan
pertama dan ketika ujian berlangsung berjalan dengan baik dan aku juga mampu
mengerjakan soal-soalnya ujian dengan baik pula. Namun apa yang terjadi
bertolak belakang dengan hasil yang dicapai “GAGAL” kesempatanku untuk masuk ke
dalam Perguruan Tinggi Negeri pun tertunda. Rasa kesal dan kecewa tentunya ada
dan frustasi tentu membayang-bayangi pikiran. Tapi masih ada kesempatan di
Ujian Masuk Bersama(UMB) dan SNMPTN. Di UMB ini lagi-lagi aku memilih akuntansi
UI sebagai pilihan pertama dan manajemen UI di pilihan kedua, meski berbekal
kegagalan di SIMAK aku masih memiliki rasa percaya diri dan optimisme bahwa kesempatan ini pasti
masuk dan lolos karena aku telah mempersiapkan segalanya untuk UMB. Namun apa
yang terjadi kembali lagi menemui kegagalan dan mimpi untuk masuk PTN seakan
sirna harapan untuk kuliah luntur karena tak ada jaminan untuk kuliah bila
tidak diterima di PTN. Masih ada satu kesempatan lagi untuk siap berkuliah di
jurusan yang aku inginkan, kali ini aku memilih Perminyakan dan MIPA UI di SNMPTN.
Di
saat aku berharap-harap cemas menunggu hasil pengumuman SNMPTN, aku sempat
mendaftar USM STAN dan saat itu aku dan Papa mendaftar dari naik motor dari
Bekasi sampai Bintaro. Sampai disana yang mendaftar USM STAN ternyata banyak
sekali, selain biaya kuliah yang gratis(dibayar dari APBN) lulusan STAN juga
akan langsung bekerja di Kementerian Keuangan yang membuat antusiasme pendaftar
tinggi dari tahun ke tahun. Dari data yang masuk waktu itu terhitung total
pendaftar dari seluruh tempat pendaftar berjumlah sekitar 117.000. Aku ingin
sekali masuk di STAN selain meringankan biaya perkuliahan aku juga bisa
melanjutkan cita-citaku dan meneruskan pekerjaan auditor Papa, namun sangat
mustahil apabila bisa diterima di STAN yang kira-kira hanya diterima 2000-3000
orang saja. Lalu, tidak lama setelah pendaftaran hasil PTN diumumkan, dan aku
mendapatkan kembali kegagalan itu. Sepertinya keberhasilan itu tak akan datang
dan kegagalan menjadi hal yang biasa kuterima. Pengumuman SNMPTN itulah titik puncak
frustasi dan titik jenuh sedalam-dalamnya.
Harapan untuk kuliah di PTN benar-benar menghilang dari
pikiran. Aku akhirnya berusaha mendaftar di Universitas Negeri Jakarta
mengambil Pendidikan Matematika dan kali ini aku benar-benar sangat yakin dan
aku pun siap untuk berkuliah di tempat ini. Sebelum USM UNJ dilaksanakan
tibalah pelaksanaan USM STAN sebelumnya aku mempersiapkan pelajaran bahasa
Inggris bersam Ms.Evi seorang guru di bimbingan belajar karena bahasa Inggrisku
sangat buruk beliau yang dengan sabar melatihku saat itu. Pukul 04.30 aku
berangkat dari Bekasi menuju Bintaro naik motor bersama Papa yang waktu itu
memiliki energi lebih untuk mengantarku. Mama telah menasehatiku juga agar
tidak beban pada ujian kali ini. Dalam perjalanan itu aku sempat berdoa kepada
Tuhan,”jika ini jalanku lancarkanlah tetapi jika ini bukan berikanlah rencana
indahMu yang lainnya agar aku bisa berguna dan bisa membuat orang tuaku
bangga.” Ujian pun berlangsung soal
ujian terdiri atas soal tes potensi akademik dan bahas Inggris, banyak dari
pendaftar yang diantar dengan mobil tidak sedikit juga yang naik motor tapi
naik motor dari Bekasi menuju Bintaro itu rasanya pegal dan bisa-bisa masuk
angin. Aku sendiri mendapat tempat ujian di Gedung I STAN saat itu rasanya bangga
walaupun hanya tes tapi setidaknya pernah merasakan atmosfer STAN. Gedung I
yang baru saja selesai dibangun setahun lalu membuat apa yang aku rasakan pada
saat ujian adalah kedinginan. Efek kedinginan ini mungkin berasal dari
perjalanan dua jam naik motor dari Bekasi dan karena aku juga yang tidak
terlalu terbiasa dengan AC sepertinya ndeso
sekali ya. Setidaknya ada kepuasan pada ujian kali ini karena akhirnya kau
ujian dalam keadaan tidak terbebani. Ujian pun selesai pengumuman akan hasilnya
dipublikasikan pada bulan Agustus beberapa hari sebelum pengumuman USM UNJ.
Akhirnya tibalah pengumuman USM STAN dan hasilnya namaku tercantum sebagai yang
terpilih di spesialisasi akuntansi. Puji Tuhan aku akhirnya diterima di
Perguruan Tinggi tanpa biaya perkuliahan. Senang sekali rasanya bisa berkuliah
di STAN aku bisa melanjutkan cita-citaku menjadi seorang auditor dan financial planner.
Dari rangkaian cerita ini tentang perjalanan diterima di
STAN, intinya teman-teman jangan pernah menyerah untuk melakukan hal yang kita
pikir tidak mungkin semua menjadi mungkin selama kita berusaha dan menyerahkan
semuanya kepada Tuhan. Jangan pernah mengeluh dan mengutuk kekurangan yang kita
miliki. Lebih baik mencoba banyak tapi kita puas meski gagal dan kita mendapat
yang terbaik daripada kita hanya diam dan menunggu. Karena kita bermegah dalam kesengsaraan dan
kita tahu kesengsaraan itu membawa kita kepada ketekunan dan ketekunan akan
menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Karena Tuhanlah
yang berencana dan manusialah yang
berusaha.
No comments:
Post a Comment