Wednesday, May 29, 2013

STAN: Perjalanan, Impian, dan Lahirnya Idealisme Seorang Akuntan


“Karena Tuhanlah yang berencana  dan manusialah yang berusaha”
            Sudah dua rasanya semenjak Papa mulai sedikit demi sedikit mengalah dengan usia dan akhirnya pensiun lebih awal. Tahun ini adalah tahun 2010 dimana aku harus menentukan pilihan untuk segera melanjutkan pendidikanku ke Perguruan Tinggi. Kegundahan itu yang membuatku sempat ragu untuk mengambil berbagai jurusan yang sebenarnya ingin kuharapkan seperti Perminyakan ITB atau sebutlah saja jurusan di Fakultas Teknik UI atau Fakultas Ekonomi UI, aku tertarik pada dua jurusan tersebut pertama aku suka sekali dengan geologi dan kedua aku juga senang dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi dan keuangan karena aku memiliki cita-cita menjadi auditor dan financial planner karena aku pernah membaca buku Rich Dad Poor Dad karena pikiranku itu sangat sempit sekali waktu itu yaitu kalau orang-orang kaya itu adalah orang-orang yang terbiasa pegang uang dan biasanya mereka adalah orang keuangan. Namun untuk lulus di sana tentunya sulit dan ditambah pada saat itu banyak desas-desus membutuhkan uang yang tidak sedikit jumlahnya. Apalagi pilihan swasta, pada saat itu biaya untuk masuk kesana bisa dua kali lebih besar dibandingkan di Perguruan Tinggi Negeri. Beban  Pikiran itulah yang selalu membayangiku ketika ditanya mau ambil apa kuliah nanti dan dimana aku akan kuliah? Aku menjawab dengan dengan keraguanku “belum tahu” atau “masa bodohlah”. Meski diberi cukup kebebasan untuk mengambil kuliah di PTN memang ada rasa yang membatasi pikiran dengan hati ketika aku mengambil jurusan-jurusan yang kuinginkan dengan kondisi yang keluargaku alami.
            Agar bisa masuk PTN, setiap hari aku pun masih ke bimbingan belajar untuk berlatih soal-soal yang membahas ujian masuk perguruan tinggi. Setiap hari lelah rasanya pulang jam delapan malam tapi rasanya dengan pengorbanan orang tua yang telah menyisihkan dana mereka agar anaknya bisa mengikuti bimbingan belajar dengan harapan aku bisa lulus dari ujian Perguruan Tinggi Negeri. Buku-buku latihan soal pun sudah menggunung di kamar, rasanya bila aku tidak lolos ke PTN aku adalah orang yang paling berdosa bagi mereka. Karena biaya yang paling murah diantara jurusan yang aku minati itu akuntansi UI maka aku berusaha mengejar dan fokus kesana sehingga aku harus menyimpang dari jurusan IPA-ku ini menuju jurusan IPS dan Ujian Saringan Masuk UI yang dikenal singkatan dengan SIMAK tinggal 3 bulan lagi yaitu pada bulan Maret tahun 2010. Dengan persiapan terbatas aku mengambil akuntansi sebagai pilihan pertama dan ketika ujian berlangsung berjalan dengan baik dan aku juga mampu mengerjakan soal-soalnya ujian dengan baik pula. Namun apa yang terjadi bertolak belakang dengan hasil yang dicapai “GAGAL” kesempatanku untuk masuk ke dalam Perguruan Tinggi Negeri pun tertunda. Rasa kesal dan kecewa tentunya ada dan frustasi tentu membayang-bayangi pikiran. Tapi masih ada kesempatan di Ujian Masuk Bersama(UMB) dan SNMPTN. Di UMB ini lagi-lagi aku memilih akuntansi UI sebagai pilihan pertama dan manajemen UI di pilihan kedua, meski berbekal kegagalan di SIMAK aku masih memiliki rasa percaya  diri dan optimisme bahwa kesempatan ini pasti masuk dan lolos karena aku telah mempersiapkan segalanya untuk UMB. Namun apa yang terjadi kembali lagi menemui kegagalan dan mimpi untuk masuk PTN seakan sirna harapan untuk kuliah luntur karena tak ada jaminan untuk kuliah bila tidak diterima di PTN. Masih ada satu kesempatan lagi untuk siap berkuliah di jurusan yang aku inginkan, kali ini aku memilih Perminyakan dan MIPA UI di SNMPTN.
Di saat aku berharap-harap cemas menunggu hasil pengumuman SNMPTN, aku sempat mendaftar USM STAN dan saat itu aku dan Papa mendaftar dari naik motor dari Bekasi sampai Bintaro. Sampai disana yang mendaftar USM STAN ternyata banyak sekali, selain biaya kuliah yang gratis(dibayar dari APBN) lulusan STAN juga akan langsung bekerja di Kementerian Keuangan yang membuat antusiasme pendaftar tinggi dari tahun ke tahun. Dari data yang masuk waktu itu terhitung total pendaftar dari seluruh tempat pendaftar berjumlah sekitar 117.000. Aku ingin sekali masuk di STAN selain meringankan biaya perkuliahan aku juga bisa melanjutkan cita-citaku dan meneruskan pekerjaan auditor Papa, namun sangat mustahil apabila bisa diterima di STAN yang kira-kira hanya diterima 2000-3000 orang saja. Lalu, tidak lama setelah pendaftaran hasil PTN diumumkan, dan aku mendapatkan kembali kegagalan itu. Sepertinya keberhasilan itu tak akan datang dan kegagalan menjadi hal yang biasa kuterima. Pengumuman SNMPTN itulah titik puncak frustasi dan titik jenuh sedalam-dalamnya.
            Harapan untuk kuliah di PTN benar-benar menghilang dari pikiran. Aku akhirnya berusaha mendaftar di Universitas Negeri Jakarta mengambil Pendidikan Matematika dan kali ini aku benar-benar sangat yakin dan aku pun siap untuk berkuliah di tempat ini. Sebelum USM UNJ dilaksanakan tibalah pelaksanaan USM STAN sebelumnya aku mempersiapkan pelajaran bahasa Inggris bersam Ms.Evi seorang guru di bimbingan belajar karena bahasa Inggrisku sangat buruk beliau yang dengan sabar melatihku saat itu. Pukul 04.30 aku berangkat dari Bekasi menuju Bintaro naik motor bersama Papa yang waktu itu memiliki energi lebih untuk mengantarku. Mama telah menasehatiku juga agar tidak beban pada ujian kali ini. Dalam perjalanan itu aku sempat berdoa kepada Tuhan,”jika ini jalanku lancarkanlah tetapi jika ini bukan berikanlah rencana indahMu yang lainnya agar aku bisa berguna dan bisa membuat orang tuaku bangga.”  Ujian pun berlangsung soal ujian terdiri atas soal tes potensi akademik dan bahas Inggris, banyak dari pendaftar yang diantar dengan mobil tidak sedikit juga yang naik motor tapi naik motor dari Bekasi menuju Bintaro itu rasanya pegal dan bisa-bisa masuk angin. Aku sendiri mendapat tempat ujian di Gedung I STAN saat itu rasanya bangga walaupun hanya tes tapi setidaknya pernah merasakan atmosfer STAN. Gedung I yang baru saja selesai dibangun setahun lalu membuat apa yang aku rasakan pada saat ujian adalah kedinginan. Efek kedinginan ini mungkin berasal dari perjalanan dua jam naik motor dari Bekasi dan karena aku juga yang tidak terlalu terbiasa dengan AC sepertinya ndeso sekali ya. Setidaknya ada kepuasan pada ujian kali ini karena akhirnya kau ujian dalam keadaan tidak terbebani. Ujian pun selesai pengumuman akan hasilnya dipublikasikan pada bulan Agustus beberapa hari sebelum pengumuman USM UNJ. Akhirnya tibalah pengumuman USM STAN dan hasilnya namaku tercantum sebagai yang terpilih di spesialisasi akuntansi. Puji Tuhan aku akhirnya diterima di Perguruan Tinggi tanpa biaya perkuliahan. Senang sekali rasanya bisa berkuliah di STAN aku bisa melanjutkan cita-citaku menjadi seorang auditor dan financial planner.
            Dari rangkaian cerita ini tentang perjalanan diterima di STAN, intinya teman-teman jangan pernah menyerah untuk melakukan hal yang kita pikir tidak mungkin semua menjadi mungkin selama kita berusaha dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Jangan pernah mengeluh dan mengutuk kekurangan yang kita miliki. Lebih baik mencoba banyak tapi kita puas meski gagal dan kita mendapat yang terbaik daripada kita hanya diam dan menunggu.  Karena kita bermegah dalam kesengsaraan dan kita tahu kesengsaraan itu membawa kita kepada ketekunan dan ketekunan akan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Karena Tuhanlah yang berencana  dan manusialah yang berusaha.

No comments:

Post a Comment