Thursday, April 27, 2017

Pelajaran bekerja

Orang yang suka menuduh orang lain tidak bekerja sesungguhnya 70% waktu bekerjanya adalah ngomongin orang dan dipakai tidak bekerja.

Kadang kita lebih mudah menilai orang lain daripada berkaca apakah kita lebih buruk daripada seseorang

Tuesday, April 11, 2017

Tentang pekerjaan

Bekerja itu banyak tantangan dan mencari win-win solution, buat keluargaku di masa depan(penulis sedang berhalusinasi) bekerja itu tidak sepenuhnya menggunakan pikiran tetapi kadang kita mencurahkan emosi didalamnya. Dalam keadaan senang mungkin kita tidak terasa bekerja berjam-jam tahu-tahu sudah jam pulang saja, tetapi ketika kita sedang ada masalah pribadi atau pekerjaan atau mendapat teguran dari atasan maka pekerjaan ringan jadi terasa berat belum lagi di dalm kantor pasti saja ada yang bergosip ria, menjelek-jelekan orang lain atau iri dengan rekan kerjanya sendiri, selama hampir tiga atau empat tahun bekerja saya sendiri bertemu orang-orang yang punya karakter berbeda-beda tapi pada akhirnya lebih baik diam dan sambil menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan, untuk keluargaku yang kelak membaca tulisan ini maka diam adalah pembelaan diri terbaik dalam bekerja, biarkan orang lain menilai dari luar tapi pada dasarnya orang lain tidak bisa menilai inner beauty kita, yang hanya orang lain tahu hanyalah keburukan saja yang sangat mudah kita cari. Jangan lah pula mulutmu menjadi manis bila bertemu atasan atau rekan tapi kamu sebenarnya tidak ngapa-ngapain yang ada hanyalah prestasi orang lain yang kamu klaim sebagai keberhasilanmu. Berikutnya jangan menyebarkan gosip atau praduga tak bersalah, kasihan kan orang lain yang menjadi bahan omongan padahal belum tentu benar bisa jadi fitnah karena ingin dapat jabatan. Adalagi semua yang kamu tahu belum tentu membuat kamu bertambah ilmunya jadi harus ada yang di delete permanent. Selain itu kamu harus juga bisa membedakan dan membatasi wewenang yang bisa kamu lakukan mana yang tidak, jangan mau kamu menjadi korban kesalahan atasanmu dan hendaknya kamu tidak melakukan apa yang seharusnya lakukan. Pada dasarnya perintah atasan harus dilakukan sebaik-baiknya, mengapa? karena loyalitas itu yang paling susah dicari. Lalu jangan pernah kamu menolak perintah atasan, terima saja dulu perintahnya selama masih tidak melanggar hukum seharusnya dikerjakan. Karena setiap perintah adalah ujian dari atasan buat kamu terkadang mereka lupa sendiri apa yang mereka perintahkan.

Tuesday, March 21, 2017

yang lalu, perjumpaan dengan stan.

Tak pernah terpikir kalau saat itu jadi PNS atau kerja di kemenkeu, karena cita-cita saya jauh dari itu mungkin ahli geologi atau financial planner kala SMA. Masa SMA bisa dibilang masa nano-nano dimana kesenangan itu tidak berasal dari hal-hal yang mewah, kalau biasanya jaman SMA hobinya nonton di bioskop lalu makan saya dan teman-teman hobi main bulutangkis, tapi sampai sekarang ga pernah jago. Nyaris kenakalan-kenakalan Di SMA tidak kami perbuat kecuali sekali tidak ikut upacara dan ketahuan. Namun disini saya pun bimbang karena pada akhirnya harus menentukan jurusan atau kuliah dimana kah saya nanti. Saya mungkin telah berusaha mati-matian belajar tapi tidak efektif dan tertekan, saya gagal dimana-mana, impian saya, orang tua saya sirna, saya selalu ingat kata-kata orang tua saya supaya harus masuk perguruan tinggi negeri karena biaya lebih murah. Sejauh itu berapakah uang yang saya habiskan untuk bimbel disana dan disini selama tiga tahun, biaya pendaftaran disana dan disini mungkin hampir dua juta, disaat orang tua saya pun pensiun dini dari karyawan swasta, saya sedang punya ambisi namun ambisi saya itu pupus dengan tekanan-tekanan yang pada akhirnya saya harus menyerah dengan itu. Lalu ada STAN di sekitar bulan Juli yang akan melaksanakan Ujian Masuk, saya ikut, saya ingat mengapa saya bisa lulus, itu karena faktor nothing to lose, dan dalam satu bulan terakhir saya belajar bahasa Inggris secara intens, kali ini Saya menang. Saya menang karena Kelimpahan Tuhan, saya sangat bersyukur. Ternyata saya tidak perlu membayar uang pangkal ke perguruan tinggi manapun, saya waktu itu sangat bersyukur karena mama selalu mensupport untuk selalu tidak tegang dalam ujian, dan papa yang mengantarkan saya pendaftaran dan ujian naik motor  bolak-balik bekasi-bintaro.

Akhirnya tibalah saya menjadi mahasiswa STAN, tak pernah terpikir apalagi karena salah seorang teman sepertinya sangat mempersiapkan ujian ini, sehingga saya jadi nothing to lose juga karenanya, tanpa tekanan.